Kamis, 05 Februari 2009

INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI (IPDN)

Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor adalah salah satu Lembaga Pendidikan Kedinasan dalam Lingkungan Departemen Dalam Negeri, dengan maksud untuk mempersiapkan kader pemerintahan dalam negeri yang siap tugas dan siap dikembangkan dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan, baik ditingkat daerah maupun ditingkat pusat secara berdaya guna dan berhasil guna.

Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor merupakan penggabungan dari STPDN & IIP yang semula merupakan penggabungan dari berbagai APDN di seluruh Indonesia.

Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menyelenggarakan pendidikan tinggi mencakup program pendidikan diploma, spesialis, sarjana, magister dan doktor yang merupakan bagian Integral dari sistem pendidikan nasional. Program pendidikan dimaksud dilaksanakan sesuai kebutuhan pelayanan pada masyarakat, bangsa, negara dan pemerintah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

PELAKSANAAN PENDIDIKAN

1. Visi dan Misi

Visi penyelenggaraan pendidikan IPDN adalah “unggul dalam menyiapkan kader pimpinan pemerintahan yang professional, demokratis dan berwawasan kenegarawanan”. Dari visi tersebut terdapat tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh lulusan/ alumni IPDN yaitu :

a.Kepemimpinan (Leadership)

b.Kepelayanan (Stewardship)

c.Kenegarawanan (Statemanship)

Misi IPDN adalah meningkatkan kualitas peserta didik sesuai dengan tuntutan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang berwawasan budaya dan lingkungan serta meletakan landasan pembentukan watak dan kepribadian, pengamalan nilai-nilai agama, budi pekerti luhur, wawasan dan jiwa kebangsaan serta penguasaan dan kemampuan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun makna pendidikan di IPDN tersirat pada lambang IPDN.

2.Asas Pendidikan

Asas pendidikan Institut Pemerintahan Dalam Negeri merupakan norma-norma yang menjadi pegangan bagi lembaga. Asas-asas tersebut adalah:

a.Asas universal dan objektif

b.Asas kepemimpinan olah praja

c.Asas perkembangan individu yang selaras, terdiri dari :

1)Asas orientasi pada masa depan

2)Asas tujuan pada tingkah laku manusia

3)Asas motivasi

4)Asas kegunaan

5)Asas alih ajar

3.Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan IPDN adalah membentuk manusia susila yang cakap, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mempunyai keinsyafan untuk bertanggung jawab terhadap kelangsungan penyelenggaraan pemerintahan pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya, untuk memangku jabatan pimpinan pemerintah di lingkungan Departemen Dalam Negeri.

4.Sistem dan Metode Pendidikan

a. Sistem dan pendidikan di IPDN memuat Tri Tunggal

Terpusat, yaitu integralistik antara Pengajaran,

Pengasuhan dan Pelatihan (Cognitive, Affectif, and

Psychomotoric)

b. Kegiatan pendidikan di IPDN diselenggarakan

menurut sistem yang bersumber pada :

1) Keluaga, meliputi pengaruh dari orang tua, sanak

saudara secara langsung maupun tidak langsung

2) Sekolah, meliputi pengaruh dari “Civitas

Akademika” baik secara langsung maupun tidak

langsung.

3) Masyarakat, meliputi pengaruh dari masyarakat

secara keseluruhan.

c. Metode yang digunakan dalam pendidikan dapat

dirumuskan sebagai berikut:

1) Metode Among Asuh, yaitu metode umum

pendidikan yang bersifat universal, berlaku bagi

setiap Pendidikan Nasional yang dilaksanakan

dengan cara sebagai berikut:

a) Ing Ngarso Sung Tulodho, yang berarti interaksi

atas kepemimpinan yang selalu mendahului

dalam memberikan teladan.

b) Ing Madyo Mangun Karso, yang berarti

mendinamisasikan dalam menumbuhkan

kehendak.

c) Tutwuri Handayani, yang berarti selalu

mengikuti dan memberikan semangat.

2) Metode Deduktif, yaitu upaya pengajaran,

pelatihan, dan pengasuhan dilaksanakan

seimbang, terpadu, dan simultan sesuai dengan

proporsi teori dan praktek serta intensitas

pengasuhan.

3) Metode Teknik Penyajian, yaitu metode penyajian

yang dilaksanakan dengan menggunakan

teknologi pendidikan dan disesuaikan dengan

situasi dan kondisi maupun sasaran pendidikan.

5. Tri Tunggal Terpusat

Pendidikan di IPDN dilaksanakan melalui Tri Tunggal Terpusat pendidikan yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi, sehingga mutlak adanya kerja sama yang terpadu secara harmonis, bulat dan terintegrasi. Berikut Tri Tunggal Terpusat pendidikan tersebut adalah:

a. Pengajaran yaitu upaya pendidikan yang berbentuk

kuliah, ceramah dan instruksional di kelas dengan

sasaran untuk memberikan pengertian,

pemahaman dan pendalaman pengetahuan teoritik

dan pragmatis yang memberikan dasar bagi

keahlian professional bidang pemerintahan dalam

negeri pada umumnya dan pemerintah

wilayah/daerah pada khususnya dan tekhnik

penyajian secara deduktif psikologis.

b. Pelatihan yaitu upaya pendidikan yang berbentuk

aplikasi yang dilakukan baik di kelas, laboratorium

maupun di lapangan yang sasarannya ditujukan

untuk membentuk kemampuan, penguasaan dan

analisis masalah praktis dalam keterampilan

profesional dan sekaligus dalam pembentukan

keterampilan kader pemerintahan.

c. Pengasuhan yaitu upaya pendidikan yang

berbentuk pendidikan dan penyuluhan di

lingkungan pendidikan dengan sasaran utama

untuk menanamkan nilai-nilai positif yang selaras,

dengan penguasaan pengetahuan kader-kader

pimpinan. dalam proses pengasuhan peserta didik

(praja) di harapkan dapat memahami dan

menerapkan prinsip kepemimpinan Astha Brata.

Ketiga jalur dan upaya pendidikan itu merupakan implementasi dan analogi dari ketiga pengaruh lingkungan pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Pangajaran merupakan analogi pengaruh sekolah/guru yang titik berat sasaranya pada aspek intelek/ilmu pengetahuan. Pelatihan merupakan analogi dari pengaruh lingkungan masyarakat yang titik berat pengaruh aspeknya pada aspek visualisasi/ uji coba dari hasil kedua lingkungan. Pengasuhan merupakan analogi dari keluarga/orang tua yang titik berat pengaruhnya pada aspek mental/kepribadian.

Sebagai wahana uji coba ketiga upaya pendidikan tersebut pada tiap akhir semester genap, dilaksanakan praktek lapangan ke desa-desa dengan rincian sebagai berikut:

a. Untuk Praja Tk1 (Muda Praja) disebut Pengenal

Praktek Lapangan (PPL) di desa dengan

kualifikasinya Desa Swasembada.

b. Untuk Praja TkII (Madya Praja) disebut Praktek

Kerja Lapangan (PKL) di desa dengan

kualifikasinya Desa Swakarya.

c. Untuk Praja Tk III (Nindya Praja) Melaksanakan

praktek pembinaan desa percontohan (Desa

Laboratorium Unit Kerja).

d. Untuk Praja Tk IV ( Wasana Praja) melaksanakan

kegiatan magang (intership), Bhakti Karya Praja

(BKP) dan ikut berpartisipasi dalam Latihan

Integrasi Taruna Wreda (Latsitarda) Nusantara

bersama-sama para Taruna Akademi TNI dan

POLRI.

6.Fakultas dan Jurusan

Institut Pemerintahan Dalam Negeri mempunyai 2 (dua) fakultas, terdir dari 6 (enam) jurusan. Yaitu :

a. Fakultas Politik Pemerintahan, terdiri dari 2 (dua)

jurusan :

1)Jurusan kebijakan pemerintahan

2)Jurusan pemberdayaan masyarakat

b.Fakultas Manajemen Pemerintahan, terdiri dari 4

(empat) jurusan :

1)Jurusan manajemen keuangan daerah

2)Jurusan manajemen sumber daya aparatur

3)Jurusan manajemen pembangunan

4)Jurusan manajemen kependudukan

7.Tahapan Pembinaan

Untuk mencapai kualifikasi hasil didik sebagaimana dirumuskan dalam tujuan pendidikan dan tujuan kurikulum yang diimplementasikan melalui proses secara bertahap dan berlanjut sebagai berikut:

a.Tahap penanaman diberikan pada Muda Praja

adalah tahap menanamkan nilai-nilai dasar

kepemimpinan pemerintahan Indonesia dan nilai

-nilai dasar profesi olah pikr dan dasar -dasar

keterampilan sebagi persiapan menerima

pengetahuan yang bersifat teknis dan latihan

lanjutan.

b.Tahap penumbuhan diberikan kepada Madya Praja

adalah tahap penumbuhan kesadaran terhadap

nilai-nilai dasar kepemimpinan permintaan

Indonesia, dan memantapkan oleh pikir serta

keterampilan sebagai persiapan menerima

pengetahuan yang bersifat teknis dan latihan

lanjutan.

c. Tahap pengembangan diberikan kepada Nindya

Praja adalah tahap pengembangan penghayatan

nilai keterampilan yang berhubungan dengan

profesinya.

d. Tahap pemantapan diberikan kepada Wasana Praja

adalah tahap memantapkan nilai-nilai

kepemimpinan pemerintahan Indonesia melalui

penguasaan dan kemampuan pengetahuan maupun

keterampila profesi, agar dapat mengaplikasikannya

secara langsung dalam penguasaan di daerah.

7. Output Pamong Praja Muda memiliki etos kerja profesional, kepemimpinan etis, visioner dengan 5 (lima) ranah kecerdasan:

•Cerdas Intelektual

•Cerdas Emosional

•Cerdas Religius serta Moral

•Cerdas Sosial

•Cerdas Praktikal

8. pengembangan pendidikan

Berdasarkan SK. Mendiknas c.q. dirjen DIKTI No. 3765/D/T/2000 tanggal 20 Oktober 2000 DAN permendagri no. 29/tahun 2005, IPDN telah diberi kepercayaan untuk mengembangkan Program Pasca Sarjana yaitu Magister Administrasi Pemerintahan Daerah (MAPD).

DASAR INTEGRASI STPDN DAN IIP

1. KEPPRES NO. 87 TAHUN 2004 TENTANG

PENGGABUNGAN STPDN DAN IIP MENJADI IPDN

2. SURAT MENPAN NO. B/1242/M.PAN/6/2005

TANGGAL 20 JUNI 2005 TENTANG PERSETUJUAN

STRUKTUR ORGANISASI IPDN

3. PERMENDAGRI NO. 29 TAHUN 2005 TANGGAL 22

JULI 2005 TENTANG SOTK IPDN.

Demikian sekilas mengenai program pendidikan kepamong prajaan di IPDN. Perubahan yang terjadi di kelembagaan IPDN diharapkan membawa angin baru dalam kualitas lulusannya. Struktur organisasi IPDN yang dibentuk berdasarkan surat menpan No. B/1242/M.PAN/6/2005 diharapkan mampu menunjang tugas-tugas pendidikan di IPDN ke arah yang lebih baik.

IPDN mempunyai rencana pengembangan kampus dengan menetapkan zona-zona tertentu sebagai pusat-pusat kegiatan pendidikan di IPDN.

PENGERTIAN ASTHA BRATA

Istilah "ASTHA BRATA" berasal dari kata asto atau hasto yang berarti delapan, kemudian broto atau baroto yang artinya laku atau perbuatan. Jadi Astha Brata atau Hasto Broto berarti delapan laku atau delapan perbuatan.

Astha Brata terdapat dalam Sarga XXIV dari wejangan Ramayana kepada Gunawan Wibisono, juga Sri Kresna dan kepada Arjuna.

Diterangkan bahwa seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi atau raja adalah dalam jiwanya terdapat delapan macam sifat kedewasaan atau watak-watak dari delapan dewa. Kewajiban dari seorang pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap sebagai berikut:

1.Dewa Surya atau Watak Matahari

Menghisap air dengan sifat panas secara perlahan

serta memberikan sarana hidup. Pemimpin harus

selalu mencerminkan sifat dan sikap semangat

kehidupan dan energi untuk mencapai tujuan

dengan didasarkan pikiran yang matang dan teliti

serta pertimbangan baik buruknya juga kesabaran

dan kehati-hatian.

2.Dewa Chandra atau Watak Bulan

Yang memberikan kesenangan dan penerangan

dengan sinarnya yang lembut. Seseorang

pemimpin bertindak halus penuh kasih sayang

dengan tidak meninggalkan kedewasaannya.

3.Dewa Yama atau Watak Bintang

Yang indah dan terang sebagai perhiasan dan yang

menjadi pedoman dan bertanggung jawab atas

keamanan anak buahnya dan wilayah

kekuasaannya.

4.Dewa Bayu atau Watak Angin

yang mengisi tiap ruang kosong. Pemimpin

mengetahui dan menanggapi keadaan negeri dan

seluruh rakyat secara teliti.

5.Dewa Indra atau Watak Mendung

Yang menakutkan (berwibawa) tetapi kemudian

memberikan manfaat dan menghidupkan, maka

pemimpin harus bermurah hati dan dalam

tindakannya bermanfaat bagi anak buahnya.

6.Dewa Agni atau Watak Api

Yang mempunyai sifat tegak, dapat membakar

dan membinasakan lawan. Pemimpin harus

berani dan tegas serta adil, mempunyai prinsip

sendiri, tegak dengan perpijak pada kebenaran

dan kesucian hati.

7.Dewa Baruna atau Watak Samudra

sebagai simbol kekuatan yang mengikat.

Pemimpin harus berani dan tegas serta adil,

mempunyai prinsip sendiri, tegak dengan perpijak

pada kebenaran dan kesucian hati.

8.Dewa Kuwera atau Watak Kekayaan/Watak Bumi

yang sentosa, makmur dengan kesucian rohani dan

jasmani. Pemimpin harus mampu mengendalikan

diri dengan kemakmuran dirinya karena harus

memperhatikan rakyat, yang memerlukan bantuan

yang mencerminkan sentosa budi pekertinya dan

kejujuran terhadap kekayaan yang ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar